Leipzig – Klub paling dibenci di Jerman itu memastikan lolos ke Liga Champions musim depan. Tapi RB Leipzig mungkin tak akan bisa bermain karena menabrak aturan UEFA.

Di akhir pekan lalu Lepizig meraih kemenangan meyakinkan atas SC Freiburg dengan skor 4-0. Hasil pertandingan itu mengokohkan posisi mereka di urutan dua klasemen dengan poin 61 dari 29 pertandingan yang sudah dilalui.

Dengan hanya ada lima laga tersisa, Leipzig dipastikan akan menuntaskan musim debutnya di Bundesliga di dalam posisi the big four. Itu artinya, mereka dapat tiket ke Liga Champions musim depan.

Tapi partisipasi klub yang didirikan pada 2009 itu di Liga Chmapions dianggap masih abu-abu. Sebabnya klub tersebut melanggar aturan UEFA terkait status kepemilikan.

Article 5 aturan dan aturan UEFA untuk Liga Champions musim 2016-17, pada bagian ‘integritas kompetisi’, menyatakan bahwa: “tidak ada individu atau entitas legal yang mengontrol atau memiliki pengaruh pada lebih dari satu klub yang berpartisipasi dari kompetisi milik UEFA”. Intinya, UEFA melarang dua klub yang dikelola oleh satu sponsor, organisasi, atau orang yang sama terlibat di satu kompetisi yang sama di Eropa.

[Baca Juga: RB Leipzig yang Sedemikian Dibenci]

Leipzig dimiliki oleh perusahaan minuman energi asal Austria, Red Bull. Perusahaan yang sama juga menjadi pemilik FC Red Bull Salzburg, yang kini berdiri di puncak klasemen Liga Austria dan sudah hampir dipastikan lolos ke Liga Champions. Dari sinilah status RB Leipzig sebagai kontestan Liga Champions musim depan masih dianggap abu-abu. Demikian Deutsche Welle memberitakan beberapa waktu lalu.

“Fakta bahwa kedua klub bisa bermain di kompetisi yang sama, dan bahkan ounya potensi bertemu satu dengan yang lain, bukan hanya akan memunculkan keragu-raguan hukum namun juga sebuah bencana politik-olahraga,” cetus pengacara sepakbola, Thomas Dehesselles, masih dikutip dari Deutsche Welle.

Red Bull bersikeras kalau Red Bull Salzburg dan RasenBallsport Leipzig adalah organisasi yang terpisah dan keduanya bersifat independen. Namun begitu keterikatan antara kedua klub tersebut sebenarnya sangatlah jelas.

Kedua kub mendapat sokongan finansial dari pemilik Red Bull, Dietrich Mateschitz. Hal lain yang sangat terang adalah kedua klub menyematkan nama perusahaan induk pada nama resmi klub – meski pada Leipzig RB ‘dipelesetkan’ menjadi RasenBallsport sebagai akibat karena Bundesliga melarang penggunaan nama spnonsor pada nama klub.

Kedua klub juga bermain dengan seragam yang sangat mirip dan logo yang nyaris identik. Kekacauan kecil malah sempat terjadi di Kualifikasi Liga Champions musim lalu saat pemain Red Bull Salzburg, Andreas Ulmer, masuk lapangan di babak kedua memakai seragam RB Leipzig.

Tumpang tindih jabatan juga terjadi. Sampai musim ini direktur sport RB Leipzig adalah Ralf Rangnick. Dia juga menjabat posisi yang sama di Salzburg.

[Baca Juga: Bos RB Leipzig Tanggapi Santai Potensi Sanksi UEFA]

(din/krs)


NO COMMENTS